Kitalah Yang Berhutang Pada Anak
By Elza Peldi Taher
Seorang teman dengan nada becanda mengatakan
bahwa setiap melihat anak orang dia pasti ingat
anak sendiri tapi setiap melihat isteri orang bisa
jadi?lupa isteri sendiri. Terhadap perkataannya
yang nyeleneh itu, teman saya pastilah cuma becanda.
Tapi terhadap pernyataannya yang pertama saya kira
dia benar, paling tidak buat saya pribadi. Setiap
kali melihat wajah sepasang buah hati saya, Ikra, 11
tahun, sekarang kelas enam SD dan Hani, 7 tahun, kelas
dua SD, saya selalu diingatkan akan satu hal; ternyata
lukisan yang paling indah di dunia ini bukanlah
bingkai yang terbuat dari emas karya Basuki Abdullah
atau senyuman monalisa karya Leonardo Davinsi,
melainkan wajah anak saya sendiri. Karena itu
saya setuju dengan canda teman saya ; setiap
melihat anak orang lain, kita teringat anak sendiri,
setiap melihat anak kita, kita seakan melihat diri
kita sendiri, melihat masa depan kita sendiri.
Merekalah yang akan meneruskan masa depan kita ketika
kematian mengambil kita dari hidup yang cuma sebentar
ini. Tak ada tempat manapun di dunia ini yang
paling indah untuk kita datangi selain memeluk dan
mendatangi hati anak kita sendiri.
Tahun lalu saya mengunjungi isteri yang sedang
menyelesaikan studinya di Brest, sebuah kota kecil
di tepi laut Atlantik, di Barat Perancis.Kami
sempat jalan jalan mengunjungi salah satu tujuh
keajaiban dunia, menara
effel di Paris. Saya sempat terpesona oleh
karya agung tersebut.Tapi keterpesonaan itu hanya
sebentar. Wajah anak saya jauh lebih indah dari
menara ajaib tersebut. Memandangi anak sepanjang
hari, memberi makna dan kebahagiaan yang mendalam
bagi saya sebagai orang tua. Seorang tua yang saya
hormati bertutur kepada saya begini ; saat ini saya
mempunyai banyak anak dan cucu. Bila suatu saat saya
tidak lagi bisa melihat, pikiran saya mulai pikun
dan bahkan saya tak ingat lagi apa apa di dunia
ini, namun wajah anak anak saya akan terpatri dalam
jiwa saya.
Tanpa anak anak saya sering merasa kesepian di tengah
keramaian. Dalam kesibukan di kantor, sering saya tiba
tiba rindu tak tertahankan pada anak lalu menelpon dan
mengirm sms. Pernah kedua anak saya pamit mau nginap
di rumah kakak saya untuk dua hari. Saya
mengizinkannya dengan hati gembira dan berharap dua
hari itu, sabtu dan minggu dapat saya gunakan untuk
istirahat santai bersama isteri setelah kerja yang
melelahkan sepanjang minggu. Tapi apa yang terjadi?
Begitu anak anak pergi kami mulai merasa ada sesuatu
yang hilang, tak ada teman untuk becanda, tak ada
suara gaduh, tak ada rengekan, tak ada suara minta
ini-itu. Rumah kami tiba tiba terasa sunyi?. Akhirnya
pagi pagi hari minggu kami memutuskan untuk mengambil
kedua buah hati kami.
Anak anak yang lugu dan imut-imut itu, memang tak
selamanya menyenangkan, kadang ia bisa
menjengkelkan dan terkadang kurang ajar. Anak saya
juga begitu. Banyak nasehat kita berikan setiap
hari; tapi terlalu banyak memberikan nasehat dan
teguran atau marah kepada anak tidaklah baik. Mereka
mungkin takkan mendengarkan semua yang kita
katakan. Tapi satu hal sederhana tapi pasti
mereka akan meniru apa yang kita lakukan yaitu
perilaku hidup kita. Karena itu lakukanlah satu
hal saja yang sederhana yaitu keteladanan hidup
yang bersumber pada ketulusan dan kasih sayang.
Dengan itu semua sampai akhir hayat anak anak kita
akan tetap mengingat
kita. Tak ada orang tua yang tidak mencintai
anaknya, apalagi ketika
anaknya masih kecil. Saya kadang iri dengan
kehidupan anak kecil. Mereka bermain dengan riang
gembira tak kuatir akan kelaparan, tak kuatir pada
masa depan dan hanya berhenti bermain ketika perut
terasa lapar. Mereka betul betul bahagia menikmati
hidup. Lain dengan kita. Kita senang bernostalgia
akan masa lampau dan berkhayal akan masa depan
yang penuh harapan tapi menderita pada saat ini.
Padahal seharusnya kita menikmati hidup pada saat
ini, bukan masa lalu dan bukan pula masa depan
karena semua itu hanyalah fatamorgana, tidak nyata.
Sebagai orang-tua pada diri kita
tertanam kesadaran sejak
kecil bahwa anak harus membalas budi kepada
orangtua, bahwa orang tua
sangat berjasa kepada anak, bahwa anak harus
patuh dan menurut pada orang-tua.. Tentu saja
perkataan itu benar. Tapi pengalaman hidup saya
dengan dua anak kecil yang manja mengajarkan saya
kesadaran sebaliknya.
Sebagai bapak dua orang anak saya berkesimpulan
apa yang saya berikan
kepada anak, sungguh tak sebanding dengan apa
yang saya dapatkan dari
mereka. Mereka telah memberi kami kebahagiaan
yang tiada terhingga.
Melihat anak ibarat mendaki gunung; makin dihayati
makin terasa meneduhkan dan menyejukkan. Sering-kali
ketika saya lelah oleh kehidupan yang kian
kerasa kejam ini, ketika saya sedang merasa terhina
karena bertemu dengan
pimpinan yang suka menghina di kantor, semua itu
seakan terobati saya
pulang kantor lalau dipeluk dan dicium oleh
kedua buah hati saya. Di
rumahlah saya menemukan kebahagiaan sejati; yang
tak saya dapatkan di
tempat lain. Carilah kebahagiaan dimana saja tapi
anda takkan mendapat
kebahagiaan yang sebanding dengan anak anak yang
mencintai kita.
Di rumah saya punya kebiasaan unik sejak
lama. Dengan anak yang terbesar kami wajib saling
memeluk dan mencium empat kali sehari, sedang dengan
yang kecil, putri bungsu saya, delapan kali sehari,
dengan catatan mereka dulu yang memulai. Mereka dapat
melakukan itu pagi hari ketika kami akan berpisah,
saat mereka berangkat sekolah dan kami berangkat
kerja dan malam hari saat kami telah kumpul kembali
di rumah. Kalau ada hari dimana mereka lupa
melakukan kontrak ini, maka saya menghukumnya dengan
mencium dan memeluk saya dua kali lebih banyak.
Sekali dalam sebulan sehabis makan bersama saya juga
punya kebiasan lain; meminta maaf kepada anak kalau
kalau saya punya kesalahan pada mereka, dan meminta
mereka mengeluarkan unek unek yang tidak mereka
sukai pada bapaknya. Biasanya mereka sudah menyiapkan
sejumlah kesalahan saya dimata mereka dan
membacanya satu persatu. Saya mendengarkannya dengan
penuh perhatian sambil manggut-manggut. Di bagian
akhir pertemuan saya tak lupa minta maaf pada mereka
atas kekhilafan saya sebagai orang-tua. Dan inilah
kalimat yang menjadi akhir kata penutup dari saya
untuk mereka "Nak, kalian titipan Tuhan kepada bapak
dan ibu, bapak dan ibu berdosa bila tak bisa
memelihara titipan Tuhan itu. Karena maafkan bapak
dan ibu ya bila dalam bulan ini kami berbuat
khilaf" Terus terang saya menikmati tradisi itu sampai
saat ini dan ingin mempertahankan tradisi
itu untuk waktu yang lama. Ada satu keinginan yang
akhirnya gagal saya
lakukan, yaitu agar anak saya cukup memanggil saya
dengan nama panggilan saya dirumah, Edi. Saya
terinspirasi oleh dosen saya, Fuad Hasan, waktu di
FISIP dulu, ingin egaliter. Hal ini sempat
berlangsung tapi diintervensi oleh emak, panggilan
saya kepada ibu saya. Emak sempat marah begitu tahu
anak saya memanggil nama kepada bapaknya. Ia
langsung menasehati cucunya
untuk agar jangan sekali kali memanggil nama
kepada bapaknya karena dosanya besar di mata Allah..
Akhirnya anak saya sampai kini memanggil saya dengan
sebutan , bapak dan ibu.
Tapi sebagai gantinya, saya lalu mengajarkan
kedua anak saya memanggil
sebutan nama ibu, Bulan, setelah kata nenek pada
ibu saya. Jadi setiap
bertemu atau menelpon kedua anak saya memanggil
ibu saya dengan 'nenek bulan',. Jika cucunya yang
lain memanggil ibu saya dengan "nenek" atau "ayek",
maka kedua anak saya memanggil ibu saya dengan
sebutan " nenek Bulan". Pada awalnya ibu saya merasa
janggal dan risih, tapi lama kelamaan ia nampak
menikmati panggilan itu. Jadilah anak saya menjadi
cucu yang lain, dibanding dua puluh tujuh orang
cucunya. Menjelang kematiannya, saat kami semua
sudah berkumpul di Sungai Aro tahun lalu, dikelilingi
puluhan anak, cucu dan cicitnya, ibu tiba-tiba
memanggil saya dan berkata dengan dengan suara lemah
di pembaringannya "Edi, mana anakmu, kenapa mereka
tidak ada, saya kangen mereka". Saya tergagap dan
terpana sesaat. Lalu berkata "mereka sedang dalam
perjalanan mak, mungkin esok sudah sampai" kata saya
membesarkan hatinya. Mendengar kata saya mata ibu
nampak berbinar, ada kebahagiaan terpancar dari
raut mukanya. Tapi saya menangis pilu karena saya
telah membohonginya. Saat itu kedua anak saya sedang
bersama ibunya nun jauh di Bresk, di Barat Perancis.
Saya melihat muka ibu saya yang makin lama makin
lemah dan membaca isyarat; saatnya sudah dekat. Saya
tahu tak ada lagi waktu untuk itu. Hanya beberapa
saat setelah itu ibu saya kembali ke kampung
halamannya yang abadi. Saat dikuburkan, waktu
memasukkan ke liang lihat , saya menangis pilu,
mencium wajahnya yang sudah dibungkus kain kafan dan
meminta maaf tak bisa memenuhi permintaannya. Lama
saya mencium mukanya sampai saya mendengar suara
takbir mengingatkan saya untuk menahan diri. "edi mana
anakmu?", itulah kata terakhir dari ibu yang selalu
tergiang di telinga saya hingga kini. Saya mencoba
menutupi kematian ibu kepada kedua anak saya supaya
mereka dapat menikmati liburannya. Dan ketika akhirnya
saya mengabarkan kematian neneknya kepada kedua anak
saya mereka menangis lama?lama sekali. Saya
kemudian mengajarkan mereka untuk banyak berdoa
supaya nanti bertemu kembali "nenek" di surga. Saya
cukup gembira karena sampai kini setiap usai
sholat keduanya selalu berdoa untuk neneknya.
Mudah-mudahan itu dapat menebus dosa saya pada ibu.
Perjalanan masih panjang dan mudah mudahan saya
tidak salah mendidik anak. Ini lah pengalaman saya
sebagai bapak, bagaimana dengan anda?